Tapi aku penari sejati.
Dan aku Belanda berdarah Indonesia.
MATA HARI, nama yang tercatat di berbagai literatur, terutama dihubungkan dengan spionase, mata-mata, intrik, juga sensualitas.
Hidup di seputar akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, Mata Hari seperti mewadahi berbagai gejolak zaman yang menjadi ciri khas pergantian abad, sampai kemudian terseret menjadi agen ganda bagi Prancis dan Jerman pada Perang Dunia I. Dalam novel ini, dikisahkan periode hidupnya yang belum banyak disingkap, yakni hidup Mata Hari di Indonesia.
Kira-kira itulah sinopsis buku Namaku Mata Hari karangan Remy Sylado. Sebelum diterbitkan, novel ini dijadikan cerbung di harian Kompas. Gw sempat mengikuti cerita ini saat dimuat di Kompas. Kisah yang sangat menarik, yang mengangkat kisah hidup seorang pelacur Belanda berdarah Indonesia. Belum baca semuanya sih, dan rencananya akan segera beli novelnya. Hohoho. Yak, cerita tentang pelacur, pernikahan, dan kekerasan pada perempuan memang selalu menarik minat gw. That's just..... interesting :)
Well, siapa sih Remy Sylado? Mungkin sudah banyak yang ngenalin dia. Ada juga yang nggak tahu sama sekali. Gw sendiri juga tahunya dari dosen tercinta yang sering banget ngomongin kehebatan Remy Sylado.
Remy Sylado (23761) mempunyai nama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong. Ia memang memiliki banyak nama samaran, seperti Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, dan Jubal Anak Perang Imanuel. Bisa dibilang Remy Sylado itu orang yang benar-benar luar biasa. Bakatnya itu banyak banget. Ia adalah seorang wartawan, sastrawan, pelukis, dramawan, bahkan ahli bahasa. Katanya, ia bahkan mengkritik doktor bahasa. Padahal, ia bukan ahli bahasa. How come???!
Kemarin, tepatnya pada tanggal 13 Desember 2010, ada acara bedah buku Namaku Mata Hari di PSBJ Unpad. Gw akhirnya bolos kuliah dan mengikuti acara itu eheheheh... Penasaran juga sama sosok Remy Sylado. Seperti apa sih dia? Dan... jeng-jeng.... Kesan pertama ngeliat, wah gaul! Meskipun sudah berumur 65 tahun, ia masih sangat stylish. Kayak Elvis Presley deeeh...
Dan ketika bedah buku dimulai.. Kesan selanjutnya... wah, gokil! Ia tipe orang yang berbicara blak-blakan. Kalau istilah komunikasi, dikenal dengan sebutan konteks rendah. Bicara mengenai selangkangan pun ya bebas saja. Memang di novelnya banyak adegan vulgar yang ia katakan itu adalah buah imajinasi yang indah. Dan ia memang benar-benar ahli bahasa! Ia bahkan menyebutkan asal kata atribut yang ia pakai dari atas sampai bawah (baju, kalung, celana, sampai sepatu). Dari atas sampai bawah nggak ada yang asli bahasa Indonesia! Orang yang sudah membaca novelnya mengatakan banyak sekali kosa kata di dalam novelnya yang tak ada di kamus Bahasa Indonesia.
Gw sih melihat ia memang benar-benar punya ketertarikan pada bidang etimologi. Gw juga melihat jiwa wartawannya yang masih bergelora walalupun sekarang ia tidak bekerja sebagai wartawan lagi. Dalam menulis novel, ia mengumpulkan data dan fakta dengan sangat rinci. Semuanya ia perhitungkan dengan baik. Bahkan, ia rela untuk mencari arsip-arsip tua yang sangat sulit dicari. Wah, salut deh sama 23761.. =D

No comments:
Post a Comment